Monday, December 8, 2014

Perjalan ke Istanbul Turki

PERJALANAN saya awal September kemarin ke Istanbul, Turki, kalau dihitung sekarang sudah mendekati satu bulan. Kenangan perjalanan ke negara Eropa Timur itu tak terlupakan dan sangat sayang kalau dibiarkan hilang tanpa kesan. Saya merasa perlu berbagi dengan pembaca GoRiau.com, tentang apa yang mereka bisa, sementara kita disini? (Tanda tanya itu bermakna bahwa ini menjadi renungan dan introspeksi diri kita bersama)

Pertama saya melihat dan merasakan betul betapa penduduk di Istanbul sangat tertib dan disiplin ketika menaiki kendaraan umum. Transportasi utama di Kota Ottomen itu adalah train listrik, yang dimanfaatkan jasanya oleh semua orang baik penduduk asli maupun pendatang atau turis. Cukup dengan modal 6 Lira atau Rp 30.000, kita sudah memperoleh Istanbul Card dan siap diisi dengan saldo yang kita inginkan. Satu kali naik train jauh dekat membayar 1,9 lira atau sekitar Rp10.000 untuk klasifikasi umum, untuk mahasiswa diberikan tarif lebih rendah hampir separuh tarif umum.

Dalam kondisi rupiah sedang melemah memang terasa agak mahal untuk angkutan umum, namun yang membuat saya kagum adalah disiplinnya penumpang menggesekkan Istanbul Cardnya di mesin yang disiapkan. Padahal untuk menaiki train, penumpang yang harus masuk ke halte dipagari dengan besi pembatas pendek, bisa saja berjalan atau melompati pagar dan dapat naik train dengan gratis. Luar biasa, selama saya di sana tidak pernah saya mendapati kejadian itu. Mereka sangat tertib dan sepertinya malu kalau tidak bayar. Lalu saya bayangkan, di tempat kita Indonesia, atau Pekanbaru bagaimana?

Hal kedua yang saya rasakan adalah friendly dan Helpfulnya penduduk Istanbul. Entah ini hanya faktor kebetulan, tapi disetiap saat mengalami kesulitan selalu saja ada warga Istanbul yang menawarkan bantuan. Saat itu saya perlu mengisi Istambul Card di mesin isi otomatis. Kejadiaannya saat hari pulang ke tanah air dari penginapan menuju bandara. Saya hanya mengantongi satu lembar uang kertas 20 Lira karena di tanah air tentunya tidak perlu menyimpan Lira dalam jumlah yang banyak. Istambul Card itupun tidak perlu diisi banyak, karena tentunya akan mubazir. Seorang bapak tua yang penampilannya tidak rapi menunjukkan dengan bahasa Turki dan isyarat bahwa saya harus memasukkan uang 20 lira itu ke mesin agar saya bisa pakai Istanbul Cardnya. Lalu dengan isyarat juga, saya menyampaikan bahwa saya hanya ingin mengisi 5 Lira, sementara mesin itu memproses dengan uang pas. Spontan orang tua tersebut merogoh kantongnya dan mengeluarkan satu uang 10 lira dan dua uang 5 lira pada saya. Subhanallah, benar-benar orang tua itu sangat membantu. Saya tawarkan 10 lira sebagai ucapan terimakasih, beliau tidak mau menerima.

Padahal, kesan pertama ketika melihat sosok bapak tua itu, saya membayangkan hanyalah seorang tuna wisma di negara kita. Sekali lagi, subhanallah, lalu di tempat kita bagaimana?

Ketiga, saya melihat kebiasaan unik warga Turki yang sangat senang minum teh atau bahasa mereka cay. Satu gelas kecil teh hitam yang wangi dan agak berbeda dengan teh yang biasa kita konsumsi ditambah dengan dua kotak kecil gula. Gula pasir di negara kita yang biasa kita pakai dengan takaran sendok, mereka buat dalam bentuk dadu (kira-kira 3 x besar dadu halma). Disuguhi teh/cay menandakan penghargaan mereka atas kunjungan kita. Saat belanja di sebuah toko pakaian, saya disuguhi teh oleh pemilik toko. Jadi, minum teh menjadi bagian dari tradisi mereka. Yang berbeda adalah, teh mereka hanya diberi sedikit gula, agak pahit. Kabarnya himbauan dari pemerintah Turki karena penduduknya banyak mengidap diabetes, maka konsumsi gula dikurangi. Saya jadi sempat berpikir, begitu perhatiannya pemerintah Turki akan kesehatan rakyatnya, sampai mengkonsumsi gula pun mereka atur. Dan betapa disiplinnya penduduk mau mematuhi aturan yang dibuat pemerintah mereka. Lalu di tempat kita bagaimana? Perhatian pemerintah kita terhadap rakyatnya bagaimana?

Selanjutnya selama seminggu di Turki, saya menemukan banyak event atau kegiatan yang berkelas internasional diselenggarakan di kota Istanbul. Tepatnya di kota Serkeci, dekat dengan Haya Sofia, minggu itu ada kegiatan Festival Budaya Korea. Pertunjukan tari, parade, pameran, bazar, tentang budaya Korea membuat tempat wisata itu semarak dan ramai. Belum lagi event kongres dan Konvensi Bimbingan Konseling Dunia yang saya ikuti di Bogazici University, dimana ada lebih kurang 200 orang dari luar kota Istanbul datang mengunjungi tempat itu yang bukan hanya untuk berseminar. Mereka berkunjung ke objek wisata juga dan tentunya juga belanja atau menghabiskan uang mereka di Istanbul. Saya juga mendengar dalam waktu yang bersamaan di tempat lain juga ada kegiatan Internasional Education Expo yaitu pameran pendidikan yang mendatangkan pengelola perguruan tinggi di seluruh dunia untuk pameran di Turki. Luar biasa, begitu upaya pemerintahnya menggaet Turis atau pengunjung datang ke kota mereka. Take and give, saya kira itu adalah hal yang perlu kita tiru. Mereka memberi ruang bagi orang lain untuk menampilkan kebolehan sementara di sisi lain mereka juga mendapatkan keuntungan atas kegiatan tersebut. Lalu di tempat kita bagaimana?

Banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dengan perjalanan ke Turki. Ibarat katak yang keluar dari tempurung, membuat saya merasa bersyukur atas Rahmat Allah pada makhluknya dalam perjalanan ini. Saya semakin yakin bahwa kita sebagai manusia yang merupakan khalifah di muka bumi ini diberi kelebihan akal pikiran untuk mengolah alam demi kemaslahatan hidup manusia. Alam diciptakan Allah dengan segenap isinya hanya manusialah yang dapat mengolahnya. Kita manusia dengan modal akal pikiran harusnya menjalankan fungsi kita.

Dengan akal pikiran itu, rasa syukur terhadap semua yang Allah berikan tidak hanya sekedar diucapkan di mulut saja, tetapi harus ditunjukkan dengan perbuatan. Perbuatan yang berisi rasa syukur adalah perbuatan yang mengarah pada perbaikan atau kemajuan.

Introspeksi diri dan selalu belajar banyak dari orang lain sehingga membuat kita menjadi lebih baik, menurut saya adalah wujud dari rasa syukur. Mereka bisa, lalu kita kenapa tidak? Apakah kita tidak pernah bersyukur? Mungkinkah kita belum maksimal memfungsikan akal fikiran kita sehingga belum mampu mengolah alam untuk kemaslahan hidup kita? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, dan mari kita introspeksi diri.

No comments:

Post a Comment